Fakultas Syariah Unisba Gelar Rukyat Hilal Awal Zulhijah 1447 H di Observatorium Albiruni

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (Unisba) bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Barat dan Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan kegiatan Rukyat Hilal Awal Zulhijah 1447 Hijriah pada Minggu, 17 Mei 2026 M/29 Zulkaidah 1447 H.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Observatorium Albiruni Fakultas Syariah Unisba yang berlokasi di Rooftop Gedung Fakultas Kedokteran Unisba lantai 10. Observatorium ini berada pada koordinat lintang -6° 55′ 2.87” LS dan bujur 107° 37′ 8.84” BT dengan ketinggian 696 mdpl, serta tercatat secara resmi sebagai salah satu titik pemantauan hilal oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sumber Daya, Umum, dan Keuangan (PASDUK) Unisba, Dr. Helmi Aziz, S.Pd.I., M.Pd.I., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan rukyat hilal merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

“Atas nama Unisba, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh tamu undangan di kampus Unisba. Sebagai perguruan tinggi, Unisba memiliki kewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Unisba berkomitmen mencetak lulusan berkarakter 3M, yakni Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid. Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi tidak boleh menjadi “menara gading”, tetapi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kegiatan rukyat hilal di Observatorium Albiruni ini merupakan salah satu bentuk pengabdian Unisba kepada masyarakat, khususnya umat Muslim di Jawa Barat. Kami berharap hasil pemantauan hilal hari ini dapat memberikan kemaslahatan bagi semua,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Syariah Unisba, Dr. N. Eva Fauziah, Dra., M.Ag., mengatakan bahwa kegiatan rukyat hilal merupakan agenda rutin Fakultas Syariah yang dilaksanakan tiga kali setiap tahun, yakni pada penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.

“Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi kurikulum Fakultas Syariah, khususnya dalam pengembangan ilmu falak dan peningkatan keterampilan mahasiswa,” ujarnya.

Ia menambahkan, praktik rukyat hilal tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga merupakan implementasi dari sunnah Rasulullah SAW melalui hadis sumu liru’yatihi wa aftiru liru’yatihi.

“Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi sarana tafakur bagi kita semua bahwa Allah SWT menciptakan langit, bumi, dan bulan sebagai alat perhitungan bagi manusia,” katanya.

Kepala Observatorium Albiruni, Encep Abdul Rojak, M.Sy., menjelaskan bahwa secara astronomis ijtimak atau konjungsi geosentris terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 03.00 WIB. Pengamatan hilal dimulai saat matahari terbenam pada pukul 17.43 WIB dengan posisi hilal berada pada ketinggian -1° 36′ 41.68”.

Ia menerangkan, proses pengamatan diawali dengan pengaturan dan kalibrasi teropong menggunakan kamera CCD serta filter Matahari sejak pukul 13.30 WIB. Menjelang waktu pengamatan, teropong diarahkan ke posisi hilal dan hasil citra ditampilkan melalui layar televisi berukuran 45 inci agar dapat diamati bersama oleh peserta rukyat.

Adapun Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, Drs. H. Dudu Rohman, M.Si., menyampaikan bahwa berdasarkan laporan pemantauan hilal di lima titik di Jawa Barat termasuk di Observatorium Albiruni Unisba, hilal tidak berhasil terlihat akibat kondisi cuaca yang mendung dan hujan di hampir seluruh lokasi pengamatan.

Meski demikian, berdasarkan data astronomis, posisi hilal di wilayah Jawa Barat telah memenuhi kriteria MABIMS dengan tinggi hilal mar’i sekitar 4 derajat dan tinggi hilal hakiki sekitar 5 derajat.

“Berdasarkan data tersebut, diprediksi 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026, dan Iduladha 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026,” ujarnya.

Hasil pemantauan dari lima titik di Jawa Barat bersama laporan dari 88 titik pemantauan di seluruh Indonesia selanjutnya disampaikan kepada Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah. [ ]

Dok foto: Unisba