FK UPI Bandung Berdayakan Lansia Lawan Sarkopenia: Nutrisi Tepat dan Exercise Teratur Jadi Kunci Cegah Penyakit Degeneratif

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG (8 Juli 2026)– Seiring bertambahnya usia harapan hidup penduduk Indonesia, tantangan kesehatan pada kelompok lanjut usia (lansia) juga semakin kompleks. Salah satu masalah yang kerap luput dari perhatian namun berdampak besar pada kualitas hidup lansia adalah sarkopenia, yaitu kondisi hilangnya massa otot, kekuatan, dan fungsi otot secara progresif akibat proses penuaan. Merespons persoalan ini, sekelompok dosen menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Upaya Pencegahan Sarkopenia pada Komunitas Lansia melalui Edukasi Pola Nutrisi dan Pola Aktivitas Fisik“, yang diketuai oleh dr. Setyo Wahju Wibowo, M.Kes.

Sarkopenia, Ancaman Diam-Diam bagi Lansia

Sarkopenia sering disebut sebagai “silent killer” pada populasi lansia karena prosesnya berlangsung perlahan dan sering tidak disadari hingga menimbulkan komplikasi serius. Penurunan massa otot yang terjadi dapat menyebabkan lansia mudah lelah, kehilangan keseimbangan, rentan jatuh, hingga mengalami penurunan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecacatan, ketergantungan pada orang lain, bahkan kematian dini.

Beberapa faktor risiko utama sarkopenia meliputi asupan protein yang tidak mencukupi, kurangnya aktivitas fisik, penyakit kronis yang menyertai usia lanjut, serta perubahan hormonal alami akibat penuaan. Sayangnya, kesadaran masyarakat, termasuk lansia dan keluarganya, tentang pentingnya pencegahan sarkopenia masih tergolong rendah. Banyak yang menganggap kelemahan otot pada lansia sebagai hal yang wajar dan tidak memerlukan penanganan khusus, padahal kondisi ini sebenarnya dapat dicegah dan bahkan diperlambat melalui intervensi yang tepat.

Edukasi sebagai Langkah Preventif

Berangkat dari keprihatinan tersebut, tim pengabdian masyarakat yang diketuai oleh dr. Setyo Wahju Wibowo, M.Kes., merancang program edukasi komprehensif yang menyasar langsung komunitas lansia. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 8 Juli 2026, bertempat di Ruang Auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, dengan diikuti oleh 20 orang peserta dari Ikatan Pensiunan Pegawai UPI (IKAPEN) yang dipimpin oleh Bapak H. Abdurachman Widjajapraja. Program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pencegahan sarkopenia sebenarnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang sering diabaikan, seperti memastikan asupan protein harian tercukupi dan tetap aktif bergerak setiap hari. Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa menjadi tua bukan berarti harus kehilangan kekuatan dan kemandirian,” ujar dr. Setyo Wahju Wibowo, M.Kes., selaku ketua tim pengabdian.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan dua arah, menggabungkan penyuluhan kesehatan dengan sesi interaktif dan praktik langsung, sehingga peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi juga aktif bertanya, berdiskusi, dan mempraktikkan apa yang telah dipelajari.

Materi Edukasi Pola Nutrisi

Salah satu fokus utama dalam kegiatan ini adalah edukasi mengenai pola nutrisi yang tepat bagi lansia dalam mencegah sarkopenia. Pemberi materi tentang pola nutrisi, dr Ikbal Gentar Alam SpGK,  menekankan pentingnya asupan protein berkualitas tinggi, baik dari sumber hewani seperti ikan, telur, dan daging tanpa lemak, maupun sumber nabati seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Protein berperan penting dalam mempertahankan dan membangun kembali massa otot yang mulai menurun seiring usia.

Selain protein, para peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya vitamin D dan kalsium untuk kesehatan tulang dan otot, serta asupan cairan yang cukup untuk menjaga fungsi metabolisme tubuh secara optimal. Tim pengabdian turut memberikan panduan praktis dalam menyusun menu makanan sehari-hari yang mudah diterapkan, terjangkau, dan sesuai dengan kondisi fisik serta kemampuan lansia dalam mengunyah dan mencerna makanan.

Tidak kalah penting, edukasi ini juga menyoroti kesalahan umum yang sering terjadi, seperti pembatasan konsumsi protein oleh lansia karena kekhawatiran berlebihan terhadap penyakit tertentu, padahal justru dapat memperparah risiko sarkopenia apabila tidak dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan terlebih dahulu.

Edukasi Pola Aktivitas Fisik

Selain nutrisi, aktivitas fisik menjadi pilar kedua yang tidak kalah krusial dalam pencegahan sarkopenia. Tim terkait aktifitas fisik yang disampaikan oleh Tono Haryono S.Pd Mkes, dan Tian Kurniawan S.si M.Pd, memperkenalkan berbagai jenis latihan fisik sederhana yang aman dan sesuai untuk lansia, seperti latihan penguatan otot (resistance training) menggunakan strech band, beban ringan atau berat badan sendiri, latihan keseimbangan untuk mengurangi risiko jatuh, serta aktivitas aerobik ringan seperti jalan kaki dan senam.

Para peserta diajak untuk langsung mempraktikkan gerakan-gerakan latihan sederhana yang dapat dilakukan di rumah menggunakan stretch band , seperti berdiri dari posisi duduk secara berulang, mengangkat kaki bergantian sambil berpegangan pada kursi, hingga peregangan otot ringan. Pendekatan ini dipilih agar lansia dapat tetap konsisten berlatih secara mandiri meski tanpa pendampingan langsung dari tenaga kesehatan setiap hari.

Tim pengabdian juga menekankan pentingnya melakukan aktivitas fisik secara rutin namun bertahap, disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu, guna menghindari risiko cedera. Edukasi ini turut mendorong keterlibatan keluarga sebagai pendukung utama dalam memastikan lansia tetap aktif bergerak dalam kehidupan sehari-hari.

Respons Positif dari Komunitas Lansia

Kegiatan pengabdian masyarakat yang didanai dari program RKAT UPI dan LPPM UPI tahun 2026  ini mendapatkan sambutan antusias dari para peserta yang tergabung dalam komunitas lansia setempat. Banyak peserta mengaku baru mengetahui istilah sarkopenia dan menyadari bahwa gejala yang selama ini mereka alami, seperti mudah lelah dan kekuatan otot yang menurun, ternyata dapat dicegah melalui perubahan pola hidup yang sederhana.

Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi tanya jawab maupun praktik latihan fisik bersama. Ketua IKAPEN, Bapak H. Abdurachman Widjajapraja, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini dan berharap edukasi semacam ini dapat terus berlanjut demi menjaga kebugaran dan kemandirian para anggota IKAPEN di masa purnabakti. Beberapa peserta bahkan menyatakan keinginan untuk membentuk kelompok senam rutin sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, sebuah indikasi bahwa edukasi yang diberikan berhasil menumbuhkan kesadaran sekaligus motivasi untuk berubah.

Harapan ke Depan

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim dosen berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan kualitas hidup lansia, sekaligus menekan angka kejadian sarkopenia di tengah masyarakat. Program edukasi semacam ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali kegiatan, melainkan dapat berlanjut secara berkala dan menjangkau lebih banyak komunitas lansia di berbagai wilayah.

Dr. Setyo Wahju Wibowo, M.Kes., menegaskan bahwa kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan, keluarga, dan komunitas lansia itu sendiri menjadi kunci keberhasilan dalam menekan prevalensi sarkopenia. Kepedulian sejak dini terhadap pola nutrisi dan aktivitas fisik yang tepat diyakini dapat membantu lansia menjalani masa tua yang lebih sehat, mandiri, dan berkualitas.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu wujud nyata peran perguruan tinggi dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan harapan ilmu pengetahuan yang dimiliki civitas akademika dapat memberikan manfaat langsung dan berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat luas, khususnya kelompok lanjut usia yang membutuhkan perhatian khusus di tengah dinamika transisi demografi Indonesia menuju struktur penduduk yang menua. [ ]