Mahasiswa Baru FK Unisba Berdampak, Nizar Bawa Riset Kanker ke Korea hingga Raih Beasiswa 3M

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Kegagalan dalam sebuah kompetisi penelitian tidak membuat Nizar Nurzaman Gunawan berhenti melangkah. Mahasiswa baru Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) itu justru semakin terdorong untuk mengembangkan riset tentang kanker hingga membawanya berkompetisi di Korea Selatan. Penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu alasan Nizar meraih Beasiswa 3M Unisba kategori riset.

Beasiswa Mujahid, Mujtahid, dan Mujaddid (3M) Unisba merupakan wujud komitmen universitas dalam mencetak generasi unggul yang berkarakter Islam, berdaya saing global, dan siap membangun peradaban. Mujahid melambangkan semangat perjuangan, Mujtahid mencerminkan intelektualitas, dan Mujaddid merepresentasikan pembaruan. Ketiganya menjadi landasan pembentukan pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ketertarikan Nizar pada penelitian mulai tumbuh sejak duduk di bangku SMA Al Muttaqin Kota Tasikmalaya. Saat itu, ia mengikuti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI). Meski belum berhasil melaju ke babak final, pengalaman tersebut menjadi bekal bagi Nizar untuk terus mengasah kemampuan dan mengembangkan penelitiannya.

Kesempatan berikutnya datang ketika Nizar mendapat informasi mengenai Korea Science and Engineering Fair (KSEF) 2025, kompetisi penelitian tingkat internasional yang digelar di Korea Selatan. Berbekal pengalaman dari OPSI dan pembinaan yang diperolehnya di sekolah, Nizar bersama seorang rekannya kembali mempersiapkan penelitian untuk mengikuti kompetisi tersebut.

“Dari kegagalan itu mulai tumbuh semangat dan jiwa kompetisi saya untuk terus berprestasi,” ujar Nizar.

Penelitian yang dibawanya berjudul Potential Secondary Metabolites of The Fungus Trichoderma sp. As A Biological Agent Candidate for Breast Cancer: In Vitro and In Silico Approach”. Penelitian tersebut mengeksplorasi potensi senyawa metabolit sekunder dari jamur Trichoderma sp. sebagai kandidat agen biologis untuk kanker payudara. Menariknya, jamur yang menjadi objek penelitian tersebut dapat ditemukan di lingkungan sekitar, termasuk pada area pepohonan pisang.

Nizar dan tim menggunakan pendekatan in vitro dan in silico. Pada pendekatan in vitro, Artemia salina atau brine shrimp digunakan untuk menguji toksisitas senyawa yang diteliti. Sementara pendekatan in silico mencakup analisis farmakokinetik dan molecular docking untuk melihat kemungkinan interaksi senyawa dengan target protein yang berkaitan dengan kanker payudara.

Penelitian tersebut kemudian menjadi salah satu bekal penting yang mengantarkan Nizar meraih Beasiswa 3M Unisba kategori riset. Melalui beasiswa tersebut, pengalaman dan capaian penelitiannya menjadi bagian dari perjalanan Nizar untuk melanjutkan pengembangan potensi akademiknya di Fakultas Kedokteran Unisba.

Meski demikian, Nizar menegaskan penelitian tersebut masih berada pada tahap analisis dan belum sampai pada tahap menghasilkan obat yang dapat digunakan manusia.

“Masih perlu waktu untuk dikembangkan sehingga nantinya bisa menjadi kandidat obat yang efektif untuk mengurangi pertumbuhan kanker payudara,” katanya.

Ketertarikan Nizar terhadap dunia kedokteran juga tidak terlepas dari pengalaman hidupnya. Ia berasal dari Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Sejak kecil, ia melihat masyarakat di daerahnya masih menghadapi tantangan dalam memperoleh akses pelayanan kesehatan. Sebagian masyarakat harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Pengalaman tersebut kemudian menumbuhkan keinginan Nizar untuk menjadi dokter dan berkontribusi dalam menjawab persoalan kesehatan di masyarakat.

Unisba menjadi pilihannya karena selain reputasi Fakultas Kedokteran, Nizar melihat banyak alumni FK Unisba yang telah berkiprah di berbagai daerah dan mendapat penilaian positif dari masyarakat.

Kini, pengalaman riset internasional tersebut ingin ia lanjutkan di bangku kuliah. Nizar menargetkan dapat menyelesaikan pendidikan kedokteran tepat waktu dengan capaian akademik terbaik.

Sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran, Nizar menyadari besarnya biaya pendidikan menjadi salah satu tantangan. Karena itu, Beasiswa 3M Unisba memiliki arti penting dalam perjalanannya. Beasiswa tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban orang tua sekaligus menjadi ruang bagi Nizar untuk terus mengembangkan prestasi.

Namun, baginya, beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan. “Saya ingin prestasi yang saya punya bisa dikembangkan dan dipublikasikan, sehingga bisa memberikan motivasi bagi orang lain untuk mengikuti jejak saya.”

Nizar juga berharap Unisba terus memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi melalui penelitian, organisasi, maupun berbagai kompetisi.

Di lingkungan kampus, ia telah diarahkan untuk melanjutkan aktivitas melalui BEM Fakultas Kedokteran serta mengembangkan prestasi penelitian melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

Ke depan, Nizar ingin mengembangkan penelitian yang telah dilakukannya, termasuk kemungkinan penelitian lanjutan mengenai kandidat obat. Ia juga tertarik mengeksplorasi penelitian di bidang saraf dan persoalan kesehatan yang dekat dengan masyarakat.

Perjalanan Nizar menjadi pengingat bahwa prestasi tidak selalu lahir dari jalan yang mulus. Kegagalan di OPSI justru menjadi salah satu pintu yang membawanya menuju pengalaman riset internasional.

Karena itu, Nizar berpesan kepada mahasiswa dan pelajar yang memiliki potensi tetapi merasa terbatas oleh keadaan agar tidak takut mencoba.

“Percayalah bahwa segala sesuatu itu pasti ada jalannya. Mau kita jatuh sekalipun, tentu pasti ada titik terangnya.”

Baginya, potensi harus diperjuangkan dan kesempatan harus dikejar. Sebab, sebuah kegagalan tidak selalu berarti kehilangan kesempatan, bisa jadi justru menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar.

Kini, dari Cikatomas menuju Fakultas Kedokteran Unisba, Nizar membawa satu tekad, yakni terus belajar, terus meneliti, dan kelak menjadi dokter yang tidak hanya mengobati, tetapi juga mampu menghadirkan solusi melalui ilmu pengetahuan dan penelitian. [ ]

Dok foto: Humas