BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menjadi pembicara dalam kegiatan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kota Bandung, dan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Jawa Barat, Selasa (4/8). Kegiatan bertema “Penanganan Masalah Lingkungan, Kebersihan dan Persampahan di Jawa Barat” tersebut berlangsung di Auditorium Lantai 17, Smart Building Universitas Komputer Indonesia (Unikom).
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Unisba memaparkan pengalaman Unisba dalam mengembangkan model pengelolaan sampah yang mengintegrasikan teknologi dengan edukasi masyarakat. Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah program socio-engineering, yakni edukasi dan pendampingan masyarakat untuk membangun kesadaran dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.
“Socio-engineering ini adalah program edukasi yang diberikan kepada masyarakat tentang bagaimana menangani sampah rumah tangga,” ujar Harits.
Program tersebut sebelumnya dilaksanakan Unisba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Dalam pelaksanaannya, Unisba menerjunkan sekitar 500 mahasiswa dari berbagai program studi yang didampingi 100 dosen pembimbing lapangan. Para mahasiswa berasal dari 19 program studi jenjang sarjana dan ditempatkan di sekitar 50 RW, dengan masing-masing RW mendapatkan pendampingan 10 mahasiswa dan dua dosen pembimbing lapangan.
Program dilaksanakan selama tiga bulan. Pada bulan pertama, mahasiswa berfokus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan sampah sekaligus mendukung program Pemerintah Kota Bandung dalam pengelolaan sampah.
Prof. Harits menjelaskan, edukasi menjadi bagian penting karena pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan teknologi. Pemilahan sampah dari sumber diperlukan agar proses pengolahan berikutnya dapat berjalan lebih efektif.
Hal tersebut juga berkaitan dengan penggunaan teknologi pengolahan sampah yang dikembangkan Unisba. Reaktor plasma yang telah dipasang dan diuji coba memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga sekitar 500 kilogram sampai satu ton per jam, dengan target pengolahan mencapai 8–10 ton per hari.
Namun, dalam proses uji coba ditemukan persoalan pada kondisi sampah yang masih tercampur antara organik dan anorganik. Kondisi tersebut menyebabkan proses pengolahan tidak berjalan optimal sehingga peralatan memerlukan perbaikan. “Berangkat dari situ, maka kita lari ke sumber sampahnya. Ini harus dipilah dulu. Sampahnya harus dipilah, kemudian food waste-nya juga dikelola dengan baik,” jelasnya.
Selain pemilahan, Unisba juga tengah merancang alat untuk mengolah food waste atau sisa makanan. Teknologi tersebut direncanakan untuk mengolah sisa makanan menjadi pakan ternak dan sedang diusulkan memperoleh pendanaan melalui program hilirisasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya Unisba menghadirkan solusi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah dan dimanfaatkan kembali, sementara sampah yang tidak dapat diolah diarahkan untuk ditangani menggunakan teknologi pengolahan yang tersedia.
Menurutnya, pendekatan berbasis masyarakat yang dilakukan Unisba juga menunjukkan hasil dalam mengurangi volume sampah dari sumbernya. Pada awal pelaksanaan, Unisba menetapkan target minimal penurunan volume sampah sebesar 10 persen selama program berlangsung. “Dan ternyata realnya adalah penurunan volume sampah di sumber sampah itu sekitar 16 persen. Itulah model yang kita kembangkan,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu kunci dalam penanganan persoalan persampahan. Edukasi mengenai pemilahan juga membuka peluang ekonomi karena sampah yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Mana yang bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan oleh masyarakat karena pada saat dipilih itu ternyata ada nilai uangnya di dalam sampah itu. Ada plastik, ada yang lainnya yang bisa dijual,” katanya.
Melalui model tersebut, Unisba berupaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pemusnahan, tetapi juga pemilahan, pemanfaatan, serta pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis keilmuan untuk menjawab persoalan lingkungan di masyarakat.
Prof. Harits menegaskan bahwa program yang dikembangkan Unisba merupakan rangkaian upaya untuk menangani sampah mulai dari sumber hingga solusi pengolahannya. Program socio-engineering yang telah dilaksanakan di Kecamatan Arcamanik tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi Unisba bersama pemerintah dalam mendukung penanganan persoalan persampahan di Jawa Barat.
“Targetnya adalah bagaimana kita melakukan program pengolahan sampah, mulai dari pilih-pilih sampai kepada solusinya adalah pemusnahan sampah itu,” pungkasnya. [ ]
Dok foto: HUMAS UNISBA












