BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Universitas Islam Bandung (Unisba) melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Publikasi Ilmiah menyelenggarakan Pelatihan Penulisan Buku Ilmiah dan Penyuntingan Naskah di Aula Pascasarjana Unisba, Jalan Purnawarman No. 59 Bandung, Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Unisba dalam meningkatkan kompetensi akademik dosen dan penulis sekaligus memperkuat budaya publikasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi.
Pelatihan menghadirkan Dr. Hayat, S.A.P., M.Si., Direktur Unisma Press sekaligus Ketua Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI) Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, sebagai narasumber. Peserta berasal dari berbagai perguruan tinggi, di antaranya Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Widyatama, Universitas Komputer Indonesia (Unikom), hingga Telkom University.
Kegiatan diawali dengan sambutan Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan Unisba, Dr. Asnita Frida B. R. Sebayang, S.E., M.Si. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa kemampuan menulis tetap menjadi salah satu indikator penting kinerja dosen di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Aspek berpikir kritis, konsep, dan substansi tetap harus berasal dari pemikiran kita. AI dapat menjadi mitra untuk meningkatkan produktivitas, tetapi jangan sampai seluruh proses dikerjakan oleh AI,” ujarnya.
Ia menambahkan, Unisba memberikan dukungan penuh terhadap berbagai kegiatan yang mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah sebagai bagian dari identitas perguruan tinggi. “Pelatihan menulis buku ilmiah dan penyuntingan naskah ini merupakan salah satu wujud komitmen Unisba dalam melahirkan berbagai pemikiran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Insya Allah Unisba akan terus menjadi perguruan tinggi yang mendukung pengembangan kompetensi menulis maupun penyuntingan,” tuturnya.
Menurutnya, kegiatan serupa perlu terus dilaksanakan secara berkelanjutan agar menghasilkan karya nyata berupa buku ilmiah yang dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat. “Yang paling penting adalah ilmu yang kita tinggalkan menjadi ilmu yang bermanfaat. Melalui setiap jejak pena, kita berharap dapat membentuk pemikiran generasi muda yang lebih baik sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tambahnya.
Pada sesi materi penulisan buku ilmiah, Dr. Hayat menjelaskan bahwa dosen memiliki potensi besar untuk menghasilkan buku ilmiah melalui konversi berbagai luaran Tri Dharma Perguruan Tinggi, seperti hasil penelitian, artikel jurnal, maupun pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, karya-karya tersebut dapat dikembangkan menjadi buku yang mampu menjangkau pembaca lebih luas sehingga penyebaran ilmu pengetahuan menjadi semakin optimal.
Ia juga menegaskan bahwa menulis buku bukanlah sesuatu yang sulit apabila seseorang berani memulai. “Menulis itu mudah, semudah berbicara. Yang sulit adalah memulai. Karena itu, kuncinya adalah berani memulai dan memperbanyak membaca. Jika ingin melihat dunia, membacalah. Jika ingin menguasai dunia, menulislah,” jelasnya.
Selain membahas strategi penulisan buku ilmiah, Dr. Hayat juga menyampaikan materi mengenai penyuntingan naskah. Ia menjelaskan bahwa peran editor tidak hanya memperbaiki kesalahan bahasa, tetapi juga memastikan kualitas naskah secara menyeluruh agar layak diterbitkan. “Editor bekerja lebih dari sekadar membenahi ejaan. Editor bertugas memastikan substansi, konsistensi, hingga kualitas naskah sehingga buku yang diterbitkan benar-benar memiliki mutu yang baik,” paparnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa setiap naskah pasti memiliki kekurangan sehingga proses penyuntingan menjadi tahapan yang tidak dapat diabaikan. “Tidak ada tulisan yang benar-benar bebas dari kesalahan. Karena itu, keberadaan editor sangat penting untuk membantu penulis menghasilkan karya yang lebih baik tanpa menghilangkan karakter penulisnya,” ujar Dr. Hayat.
Di akhir pemaparannya, Dr. Hayat menekankan bahwa kualitas sebuah buku sangat dipengaruhi oleh proses penyuntingan. Menurutnya, editor merupakan ujung tombak dalam menjaga mutu buku, kredibilitas penerbit, sekaligus reputasi penulis.
Melalui pelatihan ini, Unisba berharap semakin banyak dosen dan akademisi yang mampu menghasilkan buku ilmiah berkualitas serta memahami pentingnya proses penyuntingan dalam mendukung publikasi ilmiah yang bermutu. Selain meningkatkan kompetensi individu, kegiatan ini juga diharapkan memperkuat budaya literasi dan publikasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi. [ ]
Dok foto: Unisba












