BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Pagi bagi Ade Ihsan dimulai dengan sebuah perjalanan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Dari Pungkur, Bandung, ia memesan ojek online melalui telepon genggam menuju Universitas Islam Bandung (Unisba). Ia melakukannya sendiri dengan bantuan fitur TalkBack yang mengubah informasi pada layar menjadi suara.
Sesampainya di kampus, perjalanan Ihsan berlanjut dengan mengenali lingkungan melalui suara, langkah, teknologi, dan bantuan yang tersedia di sekitarnya. Sebagai mahasiswa penyandang disabilitas netra low vision Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Unisba, cara Ihsan menjalani aktivitas sehari-hari memang memiliki tantangan tersendiri.
Namun, berada di lingkungan kampus bukan sesuatu yang ingin ia jalani dengan rasa takut. Justru, menjadi mahasiswa Unisba merupakan bagian dari perjalanan yang sudah lama ia inginkan.
“Dari dulu saya pengen kuliah di sini,” ujar Ihsan.
Di ruang yang sama, ada pula Gianni Nur Ajizah, mahasiswa baru Program Studi Manajemen. Gianni merupakan seorang Tuli yang telah mengalami hambatan pendengaran sejak lahir. Memasuki dunia perkuliahan menjadi pengalaman baru baginya, terutama dalam membangun komunikasi dengan orang-orang di lingkungan kampus.
“Aku Tuli dari lahir,” tutur Gianni.
Bagi Gianni, keputusan untuk berkuliah di Unisba tidak terlepas dari ketertarikannya pada dunia bisnis. Ia ingin mempelajari manajemen sekaligus mempersiapkan diri untuk memiliki kemampuan yang dapat membawanya menuju dunia kerja dan kehidupan yang lebih mandiri.
Menjadi mahasiswa baru tentu membawa pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Bagi Ihsan, salah satu hal yang sempat membuatnya gugup adalah bagaimana mengikuti proses pembelajaran di lingkungan yang baru.
“Yang saya rasakan mungkin deg-degan karena baru pertama kali di sini. Takut gimana nanti enggak bisa ngikutin pembelajaran. Tapi insyaallah saya akan berusaha maksimal,” katanya.
Sementara bagi Gianni, tantangan yang paling terasa adalah komunikasi. Kondisi sebagai seorang Tuli membuat proses berinteraksi dengan lingkungan baru membutuhkan penyesuaian dari kedua belah pihak.
Meski demikian, ia memilih untuk tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berhenti melangkah.
“Cukup bingung dengan komunikasi jika terkendala Tuli, tapi tetap semangat,” ujarnya.
Semangat tersebut juga tumbuh dari pengalaman Gianni bertemu dengan teman-teman barunya. Ia merasakan lingkungan yang menerimanya dan tidak menjauhinya hanya karena kondisi yang dimiliki.
“Teman-teman baik banget. Bisa jadi membantu salah satu di lingkungan kampus, tidak menjauhiku,” katanya.
Bagi mahasiswa penyandang disabilitas, dukungan lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun rasa percaya diri. Kehadiran teman yang bersedia membantu, dosen yang terbuka dalam berkomunikasi, serta lingkungan kampus yang terus berupaya membangun aksesibilitas dapat membuat proses adaptasi berlangsung lebih nyaman.
Hal tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan Ihsan. Baginya, kemandirian bukan berarti harus melakukan semuanya seorang diri. Teknologi dan lingkungan yang mendukung justru menjadi bagian yang membuatnya mampu menjalankan berbagai aktivitas secara mandiri.
Salah satu contohnya adalah penggunaan laptop. Setelah lulus SMA, Ihsan sempat menjalani gap year selama sekitar tiga tahun. Pada masa tersebut, ia menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan teknologi, terutama ketika mulai menggunakan laptop.
Kini, ia dapat mengoperasikan laptop dengan bantuan perangkat lunak screen reader NVDA (NonVisual Desktop Access). Sebelumnya, telepon genggam menjadi perangkat utama yang membantunya beraktivitas.
“Cara mengatasinya, waktu itu saya belum bisa laptop. Saya pakai HP saja untuk sementara. Tapi enggak lama pakai handphone juga,” tuturnya.
Pengalaman tersebut membuat Ihsan memahami bahwa proses menjadi mandiri membutuhkan waktu. Ia tidak hanya belajar mengikuti perkuliahan, tetapi juga terus belajar menemukan cara yang sesuai dengan kebutuhannya.
Karena itu, Ihsan berharap lingkungan kampus ke depan semakin mudah diakses mahasiswa penyandang disabilitas. Ia menilai keberadaan guiding block yang lebih banyak dan terhubung dengan baik akan membantu mahasiswa tunanetra bergerak secara lebih mandiri. Begitu pula dengan fasilitas di dalam gedung, seperti lift yang dilengkapi informasi yang dapat diakses mahasiswa tunanetra.
“Untuk saya, mudah-mudahan kampusnya lebih inklusif lagi. Yang ada guiding block-nya lebih diperbanyak lagi. Karena itu buat mempermudah orang yang tunanetra untuk berjalan, lebih mandiri,” ujarnya.
Harapan tersebut berangkat dari pengalaman sehari-hari. Sebab, bagi mahasiswa disabilitas, aksesibilitas bukan hanya persoalan fasilitas. Ia berkaitan langsung dengan kesempatan untuk mengikuti kegiatan akademik, berinteraksi, berpindah dari satu ruang ke ruang lain, serta menjalani kehidupan kampus secara mandiri.
Sementara itu, Gianni membawa harapan yang tidak jauh berbeda dalam bentuk yang lain. Ia ingin masa perkuliahannya menjadi jalan untuk mengembangkan diri hingga suatu saat memperoleh kesempatan kerja dan mencapai kesuksesan.
Keinginannya juga berangkat dari sosok-sosok di lingkungan keluarga yang menjadi motivasi baginya untuk terus berkembang.
“Aku ingin jadi orang sukses dan berguna untuk keluarga dan saudara,” katanya.
Bagi Ihsan sendiri, cita-cita sudah tergambar lebih jelas. Ia ingin menjadi seorang dosen Pendidikan Agama Islam.
“Saya pengen jadi dosen. Target jadi dosen PAI. Kalau bisa di sini juga, mudah-mudahan,” ujarnya.
Dua mahasiswa tersebut datang dengan pengalaman dan cara beradaptasi yang berbeda. Ihsan belajar mengenali ruang melalui suara, teknologi, dan pengalaman bergerak secara mandiri. Gianni membangun komunikasi dengan lingkungan baru sambil terus menemukan cara agar dapat mengikuti kehidupan perkuliahan dengan nyaman.
Namun, keduanya memiliki satu kesamaan: sama-sama sedang memulai perjalanan menuju masa depan yang mereka harapkan.
Bagi Ihsan, Unisba adalah tempat yang sejak lama ingin ia tuju. Bagi Gianni, menjadi mahasiswa Unisba merupakan kesempatan yang ia syukuri sebagai bagian dari pertolongan Allah.
“Bersyukur jadi mahasiswa Unisba itu pertolongan Allah,” ungkap Gianni.
Perjalanan mereka sekaligus menunjukkan bahwa kehidupan kampus tidak selalu dimulai dari titik yang sama. Setiap mahasiswa membawa pengalaman, kebutuhan, tantangan, dan cara belajar yang berbeda. Yang kemudian menjadi penting adalah bagaimana lingkungan kampus memberi ruang agar setiap mahasiswa dapat berkembang.
Dalam perjalanan itu, dukungan tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Seorang teman yang bersedia membantu, lingkungan yang tidak menjauhkan, teknologi yang memudahkan, hingga fasilitas yang lebih aksesibel dapat menjadi bagian penting dari pengalaman seorang mahasiswa.
Pada akhirnya, Ihsan dan Gianni tidak ingin dikenang hanya karena kondisi disabilitas yang mereka miliki. Mereka ingin dikenal melalui apa yang sedang mereka perjuangkan dan apa yang ingin mereka capai.
Ihsan ingin berdiri di depan kelas sebagai dosen. Gianni ingin mengembangkan kemampuan di bidang manajemen, memperoleh kesempatan kerja, dan menjadi seseorang yang berguna bagi keluarganya.
Keduanya memahami bahwa perjalanan menuju cita-cita masih panjang. Karena itu, pesan yang mereka bawa bukan hanya tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana mahasiswa dapat tumbuh bersama.
“Tetap semangat supaya sukses, cita-cita tercapai,” kata Gianni.
Sementara itu, ia mengajak mahasiswa baru lainnya untuk tidak merasa sendirian dalam menjalani proses adaptasi.
“Kita semua sama-sama sedang berjuang beradaptasi, dan tidak ada yang perlu merasa sendirian dalam proses ini. Mari kita saling merangkul, saling membantu, dan sukses bareng di kampus ini.”
Di Unisba, perjalanan setiap mahasiswa memang dapat berlangsung dengan cara yang berbeda. Ada yang mengenali arah melalui suara, ada yang membangun komunikasi melalui cara yang berbeda, dan ada yang membutuhkan dukungan lingkungan untuk dapat mengikuti aktivitas kampus secara optimal.
Namun, tujuan mereka tetap sama: belajar, berkembang, dan mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang bermanfaat.
Sebab, kampus yang inklusif bukan hanya tentang siapa yang dapat masuk ke dalamnya, tetapi juga tentang bagaimana setiap orang yang berada di dalamnya memiliki kesempatan untuk tumbuh.
Dok foto: Humas












