ok

Ketum PP GMH: Persatuan dan Kemandirian Bangsa Jadi Fondasi Kemajuan Indonesia

BERITAUNGGULAN.COM, JAKARTA — Persatuan menjadi fondasi utama dalam membangun Indonesia yang maju, berdaulat, dan bermartabat. Namun, persatuan perlu ditopang oleh kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, serta kemandirian bangsa dalam menghadapi berbagai tantangan global.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (PP GMH), Rizki Ulfahadi, dalam Pidato Kebudayaan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98. Pidato tersebut disampaikan dalam rangkaian pembukaan GMH National Leadership Academy (NLA) 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).

Mengusung tema “Generasi Pemimpin Persatuan Indonesia”, GMH National Leadership Academy 2026 berlangsung selama lima hari, 28 Oktober hingga 1 November 2026. Kegiatan ini diikuti para pimpinan Pengurus Daerah GMH dari berbagai provinsi serta kader-kader terpilih sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi pemimpin muda Indonesia.

Rangkaian pembukaan kegiatan dikemas melalui Gen Z Youth Leaders Forum yang diselenggarakan di Ballroom Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Forum tersebut dibuka secara resmi oleh Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, H. Yandri Susanto.

Dalam pidato kebudayaannya, Rizki menekankan bahwa persatuan bukan sekadar warisan sejarah perjuangan bangsa, melainkan kekuatan strategis yang harus terus dirawat untuk membawa Indonesia menuju kemajuan.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari kesadaran kolektif untuk mengesampingkan perbedaan demi cita-cita bersama. Semangat serupa, menurutnya, harus menjadi landasan dalam menghadapi tantangan pembangunan saat ini.

“Indonesia telah meraih kemerdekaan karena persatuan. Maka, ketika hari ini kita mengisi kemerdekaan, persatuan juga menjadi syarat mutlak agar Indonesia mampu mencapai kemajuan. Kita tidak mungkin membangun bangsa yang besar jika masih terjebak dalam perpecahan dan kepentingan kelompok,” tegas Rizki.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa menjaga persatuan saja belum cukup. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, memiliki kesadaran sejarah, serta mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Rizki juga mengangkat pentingnya dekolonisasi pemikiran sebagai bagian dari agenda kebangsaan yang harus diselesaikan. Menurutnya, kemerdekaan sejati tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan politik, tetapi harus diwujudkan melalui kemandirian berpikir, penguasaan teknologi, dan kemampuan bangsa mengelola kekayaan alam serta sumber daya yang dimiliki.

“Bersatu saja tidak cukup, kita membutuhkan SDM unggul. Kita harus menjadi bangsa yang tidak hanya mampu menjaga persatuan, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengelola kekayaan, mengembangkan teknologi, dan menentukan masa depan sendiri,” ungkapnya.

Dalam kaitan tersebut, Rizki mendorong mahasiswa untuk mengambil peran lebih strategis dalam pembangunan nasional. Mahasiswa, katanya, tidak boleh hanya menjadi kelompok yang pandai mengidentifikasi persoalan dan menyampaikan kritik, tetapi juga harus mampu menawarkan solusi serta rekomendasi yang dapat diwujudkan melalui aksi nyata.

Ia menilai generasi muda perlu membangun kepercayaan diri dengan berpijak pada nilai-nilai luhur agama dan kebudayaan Nusantara. Kesadaran sejarah juga harus menjadi bekal untuk melahirkan gagasan, inovasi, dan karya yang memberikan kontribusi bagi masa depan Indonesia.

Melalui penyelenggaraan GMH National Leadership Academy 2026, PP GMH berupaya membangun kapasitas kader sekaligus memperkuat konsolidasi gerakan mahasiswa di berbagai daerah. Program ini diharapkan melahirkan pemimpin muda yang mampu menjembatani perbedaan, memperluas kolaborasi, dan menggerakkan perubahan di tengah masyarakat.

Sosok pemimpin muda yang ingin dibangun adalah generasi yang kuat secara spiritual, unggul secara intelektual, progresif dalam aktivisme, serta memiliki orientasi pemberdayaan dan pengabdian kepada masyarakat.

Menutup pidatonya, Rizki mengajak seluruh kader GMH dan generasi muda Indonesia menjadikan persatuan sebagai fondasi perjuangan, ilmu pengetahuan sebagai kekuatan, kebudayaan sebagai identitas, serta pengabdian sebagai wujud nyata kecintaan terhadap bangsa.

“Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi yang mampu memimpin hari ini, tetapi generasi yang sanggup membangun masa depan, menjaga kedaulatan, dan menghadirkan peradaban yang lebih adil dan bermartabat,” pungkasnya.