BERITAUNGGULAN.COM, JAKARTA — Minggu (18/10/2026) Hambatan dalam dunia kepemimpinan sering kali hadir tanpa wujud yang kasatmata. Ia tidak tertulis dalam regulasi resmi, tidak tertuang dalam konstitusi organisasi, namun keberadaannya sangat nyata dirasakan, khususnya oleh perempuan. Fenomena ini populer dengan sebutan glass ceiling—sebuah tatanan tak kasatmata yang secara halus membatasi pergerakan perempuan untuk melangkah ke tampuk kepemimpinan puncak.
Merespons dinamika sosial tersebut, BEM UPN “Veteran” Jakarta melalui Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Mahasiswa mengambil langkah progresif dengan menggelar ruang diskusi publik bertajuk BERSUARA #2. Dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari tujuh fakultas pada Jumat sore, 16 Oktober 2026, forum ini menjadi wadah refleksi kritis bersama dalam menyoroti tantangan kesetaraan gender di lingkungan akademis.
Membedah Akar Masalah di Lingkungan Kampus
Dengan mengusung tema “Membongkar Glass Ceiling: Bias Gender dan Tantangan Perempuan dalam Ruang Kepemimpinan Kampus”, diskusi ini berfokus pada penguraian berbagai konstruk sosial yang selama ini mengakar. Di panggung organisasi kemahasiswaan, tidak jarang muncul anggapan implisit bahwa peran-peran strategis yang menuntut pengambilan keputusan cepat dan berisiko tinggi lebih ideal dipegang oleh laki-laki. Sebaliknya, posisi yang berorientasi pada kesekretariatan, konsumsi, atau pelayanan sosial kerap secara otomatis terlabeli sebagai “area kerja perempuan”.
Stereotip dan ekspektasi gender seperti inilah yang membentuk bias tidak sadar (unconscious bias). Akibatnya, ketika seorang perempuan mencalonkan diri sebagai ketua organisasi atau pemimpin pergerakan, penilaian terhadap dirinya kerap terdistorsi oleh norma gender masyarakat, bukan didasarkan pada rekam jejak, visi, maupun kompetensi kepemimpinannya.
Menepis Pembatasan, Mengedepankan Meritokrasi
Poin mendasar yang dipetik dari forum BERSUARA #2 adalah pentingnya mengembalikan kepemimpinan pada prinsip meritokrasi. Kesempatan untuk memimpin, berpendapat, dan mengambil kebijakan dalam ruang publik kampus sejatinya harus terbuka lebar bagi siapa saja yang memiliki integritas dan kapasitas.
Keterlibatan aktif lintas fakultas dalam diskusi ini menunjukkan bahwa isu kepemimpinan perempuan bukan sekadar agenda kelompok tertentu, melainkan kepentingan bersama Keluarga Mahasiswa UPNVJ. Ketika kepemimpinan kampus dibatasi oleh norma gender yang sempit, maka potensi-potensi gagasan hebat dari separuh populasi mahasiswa justru berisiko terabaikan.
Mewujudkan Ruang Organisasi yang Inklusif
Gagasan utama dari penyelenggaraan BERSUARA #2 tidak berhenti pada tataran wacana atau identifikasi masalah belaka. Diskusi ini dirancang sebagai pemantik perubahan sikap dan budaya organisasi di kampus. Pembentukan kesadaran kritis mahasiswa diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan internal organisasi yang lebih responsif gender, menciptakan iklim kerja kelompok yang saling mendukung, serta menghapus hambatan kultural bagi srikandi-srikandi kampus untuk tampil di barisan depan.
Pada akhirnya, menembus glass ceiling memerlukan komitmen kolektif. Ruang organisasi yang inklusif dan setara hanya dapat terwujud apabila seluruh elemen mahasiswa sepakat bahwa kepemimpinan adalah soal kualitas, wawasan, dan dedikasi—bukan batasan gender.












