BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unisba berkolaborasi dengan Republika Jawa Barat dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar seminar bertajuk “Pinjol & Doom Spending: Cerdas Finansial, Bijak Digital, Amankan Masa Depan” di Ruang Auditorium Lantai 8 Gedung Dekanat Unisba. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas tantangan literasi keuangan di era digital, khususnya di kalangan generasi muda.
Seminar diawali dengan sambutan dari Kepala Perwakilan Republika Jawa Barat, Sandy Ferdiana, S.I.Kom., M.I.Kom. Ia menyoroti fenomena doom spending, yakni perilaku konsumtif yang kerap dilakukan generasi muda untuk mengatasi kegelisahan dengan berbelanja, yang kemudian didukung oleh kemudahan layanan paylater maupun pinjaman online.
“Kalau kita tahu Gen Z saat ini menghadapi tantangan finansial dan mental yang luar biasa di era digital ini. Ada fenomena doom spending, perilaku di mana kegalauan Gen Z dan milenial itu terobati dengan check out. Darimana uangnya? Ada paylater. Ini jadi persoalan ke depannya ketika kondisinya seperti ini,” ujarnya.
Sandy mengungkapkan bahwa tingginya angka pinjaman online di Jawa Barat menjadi salah satu alasan Republika tergerak untuk menginisiasi kegiatan edukasi seperti ini. Menurutnya, Jawa Barat memiliki nilai pinjaman online tertinggi di Indonesia dengan angka outstanding mencapai Rp23 triliun. “Jawa Baratlah yang harus jadi pilot project untuk menuntaskan persoalan nasional ini,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Republika berkomitmen menjadi bagian dari unsur pentahelix yang berkontribusi menyelesaikan persoalan ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat. Upaya tersebut, lanjutnya, sejalan dengan perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap persoalan pinjaman online dan praktik rentenir yang masih marak terjadi.
Sementara itu, Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kemajuan teknologi telah menghadirkan berbagai kemudahan bagi Generasi Z, termasuk dalam hal transaksi keuangan. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko apabila tidak dibarengi dengan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik.

“Di era digital Gen Z dimanjakan dengan segala kemudahan teknologi. Mau makan tinggal klik, mau belanja tinggal geser layar, bahkan kalau dompet sedang tipis pun ada tawaran pinjaman instan yang godaannya luar biasa. Dalam situasi ini perlu pemahaman bagaimana mengelola keuangan dengan cermat tanpa menimbulkan risiko,” ujarnya.
Menurutnya, perubahan bentuk uang dari fisik menjadi digital sering kali membuat generasi muda kehilangan kepekaan terhadap nilai uang. Selain itu, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) turut mendorong mahasiswa mengikuti gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial. “Tanpa literasi keuangan yang baik, kita akan sulit membedakan mana kebutuhan dan mana yang sekadar keinginan,” tuturnya.
Ia berharap seminar ini dapat menjadi momentum bagi mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman sekaligus mengubah perilaku dalam mengelola keuangan secara lebih bijak. “Saya berharap seminar ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mampu mengubah cara pandang dan perilaku kita dalam mengelola keuangan,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Bayu Rakhmana, S.STP., M.H., mengungkapkan tingginya aktivitas digital masyarakat Jawa Barat. Berdasarkan data yang disampaikannya, sekitar 70,58 persen penduduk Jawa Barat atau sekitar 35,5 juta jiwa telah memiliki telepon seluler pada 2024. Sementara itu, tingkat penetrasi internet pada 2025 mencapai 86 persen.
Meski demikian, Bayu mengingatkan bahwa tingginya akses digital tidak selalu berdampak positif. Berbagai persoalan seperti pinjaman online, judi online, hingga budaya konsumtif kini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi juga telah menjangkau wilayah pedesaan.
“Kalau saat ini juga di Jawa Barat terjadi permasalahan sampah, ini juga akibat dari banyaknya belanja online. Dulu mungkin sampah hanya di perkotaan, sekarang sampai ke level desa,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa budaya paylater dan pinjaman online berpotensi menciptakan kondisi ekonomi yang tidak sehat karena masyarakat menggunakan pendapatan masa depan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saat ini.
“Pendapatan yang mungkin nanti akan kita dapatkan di kemudian hari, tapi kita habiskan di hari ini. Bahkan mungkin beberapa yang tidak punya pendapatan, justru memiliki utang yang menumpuk sehingga seolah-olah ekonomi kita tergadaikan,” katanya.
Bayu juga mengingatkan dampak sosial yang dapat muncul akibat jeratan pinjaman online, termasuk kasus-kasus tragis yang terjadi di sejumlah daerah akibat tekanan utang.
“Saya mengajak kepada seluruh peserta, khususnya para mahasiswa dan pelajar, menjadikan seminar ini sebagai sarana untuk menambah wawasan dan memperkuat kesadaran dalam mengelola keuangan secara sehat. Jangan mudah tergiur dengan kemudahan yang ditawarkan pinjaman online dan jangan terjebak dalam budaya konsumtif yang berlebihan,” tegasnya.
Sambutan terakhir disampaikan oleh Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman. Ia menjelaskan bahwa fenomena doom spending erat kaitannya dengan rendahnya literasi keuangan serta kecenderungan generasi muda yang terpengaruh budaya FOMO maupun YOLO (You Only Live Once).
“Ketika keinginan yang ditonjolkan dari kebutuhannya, inilah yang membuat seseorang memaksakan diri untuk meminjam tanpa berpikir panjang. Istilahnya check out dulu, nanti bayarnya dipikirkan belakangan,” ujarnya.
Menurut Darwisman, perilaku tersebut dapat menimbulkan berbagai dampak sosial apabila tidak segera diantisipasi melalui edukasi yang masif. Karena itu, OJK terus bersinergi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
“Saya pikir kuncinya perlu kita angkat literasi keuangan, bukan hanya paham, tetapi perilakunya juga harus bijak dalam mengelola keuangan,” katanya.
Setelah sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang menghadirkan lima narasumber, yakni Yuzirwan selaku Kepala Direktorat Pengawasan PEPK dan LMS OJK Jawa Barat, Iwan Prastyo dari Pindiv Jaringan dan Layanan Bank BJB, Prof. Dr. Sri Fadillah, S.E., M.Si., Ak., CA., ACPA. selaku Dekan FEB Unisba, Saji Sonjaya dari Satgas Anti Rentenir, serta Dr. Ilmi Hatta, M.Psi., Psikolog dari Fakultas Psikologi Unisba.
Melalui seminar ini, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai bahaya pinjaman online ilegal, pentingnya perencanaan keuangan, strategi menghindari perilaku konsumtif, hingga aspek psikologis yang mendorong seseorang melakukan doom spending. Kegiatan ini diharapkan mampu membentuk generasi muda yang lebih cerdas secara finansial, bijak dalam memanfaatkan teknologi digital, serta mampu menjaga stabilitas keuangan demi masa depan yang lebih baik. [ ]
Dok foto: Humas












