Unisba Raih Penghargaan Perguruan Tinggi Inklusif, Perkuat Komitmen Wujudkan Kampus Ramah Disabilitas

BERITAUNGGULAN.COM, SURAKARTA – Universitas Islam Bandung (Unisba) menerima penghargaan sebagai Perguruan Tinggi Inklusif dalam ajang UNS-KND Inclusion Metric 2026 yang diselenggarakan di Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Selasa (28/7). Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas komitmen Unisba dalam membangun lingkungan pendidikan tinggi yang ramah disabilitas sekaligus mendorong kesetaraan akses bagi seluruh mahasiswa.

Wakil Rektor Bidang Belmawa Unisba, Dr. Asnita Frida B. R. Sebayang, S.E., M.Si., memaknai penghargaan tersebut bukan sebagai akhir dari perjalanan, melainkan penyemangat untuk terus meningkatkan kualitas layanan bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

“Penghargaan ini menjadi cambuk bagi kami untuk terus belajar dan mempersiapkan berbagai aspek pembelajaran maupun pelayanan bagi mahasiswa disabilitas. Ini menjadi penyemangat untuk menghadirkan layanan yang benar-benar inklusif sesuai dengan komitmen yang telah kami bangun,” ujarnya.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil dari langkah strategis yang telah dilakukan Unisba sejak awal 2026 dalam merespons kebijakan pemerintah mengenai kampus ramah disabilitas. Salah satu langkah penting adalah pembentukan Task Force Unit Layanan Disabilitas (ULD) melalui Surat Keputusan Rektor pada Maret 2026 sebagai bentuk komitmen institusi mewujudkan kampus inklusif.

Selain membentuk ULD, Unisba juga berhasil memperoleh hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) untuk penguatan layanan disabilitas. Berbagai program kemudian dikembangkan, mulai dari pendataan mahasiswa disabilitas sejak proses penerimaan mahasiswa baru, penyusunan tata kelola layanan, hingga mengikuti UNS-KND Inclusion Metric, instrumen penilaian tingkat inklusivitas perguruan tinggi yang dikembangkan melalui kolaborasi Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Komisi Nasional Disabilitas (KND).

“Dari proses penilaian tersebut terlihat adanya upaya nyata yang telah dilakukan Unisba dalam membangun kampus inklusif. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas effort yang telah kami lakukan, meskipun pekerjaan rumah kami masih sangat banyak,” kata Asnita.

Ia menjelaskan, sebelum memperoleh penghargaan, Unisba telah melaksanakan berbagai program penguatan layanan disabilitas. Di antaranya menggelar focus group discussion (FGD) bersama Bandung Independent Living Center (BILiC) untuk memahami berbagai jenis disabilitas beserta kebutuhan pendampingannya, menghadirkan Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI dalam sesi sosialisasi kepada para dekan mengenai implementasi kampus inklusif, melakukan benchmarking ke Monash University Indonesia guna mempelajari praktik layanan pembelajaran inklusif, serta mengikuti rangkaian penyusunan dan pengisian indikator dalam UNS-KND Inclusion Metric bersama UNS dan KND.

Unisba juga memperoleh hibah penguatan layanan disabilitas dari Diktisaintek yang semakin memperkuat implementasi program inklusif di lingkungan kampus. Melalui hibah tersebut, berbagai program penguatan tata kelola dan pelayanan terus dikembangkan sebagai bagian dari komitmen jangka panjang universitas.

Di bidang kemahasiswaan, Unisba juga untuk pertama kalinya mengirimkan mahasiswa pada ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) Disabilitas tingkat nasional. Mahasiswa Unisba berhasil menjadi perwakilan LLDIKTI Wilayah IV hingga tingkat nasional sebagai wujud komitmen kampus dalam memberikan kesempatan yang setara bagi mahasiswa penyandang disabilitas untuk berprestasi.

Sebagai unit yang berada di bawah Bidang Belmawa, ULD memiliki peran memastikan mahasiswa penyandang disabilitas memperoleh hak yang sama sejak proses penerimaan mahasiswa baru hingga menyelesaikan studi. Kebutuhan setiap mahasiswa dipetakan secara individual agar layanan yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Setiap mahasiswa memiliki kebutuhan yang berbeda. Kami melakukan pemetaan sejak awal, kemudian berdialog untuk mengetahui bentuk dukungan yang diperlukan. Jika ada kebutuhan yang bisa difasilitasi Unisba, kami siapkan akomodasi yang layak agar mereka dapat mengikuti proses akademik maupun nonakademik secara optimal,” jelasnya.

Ke depan, Unisba juga tengah mengembangkan Learning Management System (LMS) yang lebih ramah disabilitas. Selain itu, berbagai bentuk layanan akademik akan terus disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa, termasuk fleksibilitas dalam proses pembelajaran maupun evaluasi bagi mahasiswa dengan kondisi tertentu.

Meski demikian, Asnita mengakui tantangan terbesar dalam membangun kampus inklusif bukan hanya terletak pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga membangun kesadaran seluruh sivitas akademika.

“Tantangan terbesar kami adalah membangun mindset. Kampus inklusif bukan hanya hubungan antara mahasiswa dengan rektorat, tetapi juga bagaimana dosen, tenaga kependidikan, teman sekelas, organisasi mahasiswa, hingga lingkungan kampus memahami dan mendukung mahasiswa disabilitas,” ungkapnya.

Selain memperkuat sosialisasi, Unisba juga terus melakukan audit terhadap fasilitas kampus agar semakin ramah disabilitas, termasuk aksesibilitas gedung, tempat ibadah, hingga tampilan situs web yang lebih ramah bagi pengguna dengan keterbatasan penglihatan (low vision friendly).

Penghargaan ini sekaligus menjadi pijakan bagi Unisba untuk menghadirkan berbagai program lanjutan, seperti penyusunan pedoman layanan disabilitas, peningkatan infrastruktur, pembentukan relawan pendamping mahasiswa disabilitas, pelatihan bahasa isyarat, serta berbagai program peningkatan kapasitas yang melibatkan dosen maupun mahasiswa.

Bagi Asnita, keberhasilan membangun kampus inklusif harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan sekadar penghargaan.

“Target kami sekarang adalah menerjemahkan penghargaan ini menjadi tindakan nyata. Bagaimana pembelajaran menjadi lebih inklusif, layanan semakin baik, dan seluruh sivitas akademika memiliki kepedulian yang sama dalam mendukung mahasiswa disabilitas,” katanya.

Ia menambahkan, penghargaan tersebut juga sejalan dengan visi Unisba sebagai perguruan tinggi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari nilai-nilai 3M Unisba dalam membentuk pribadi mujahid, mujtahid, dan mujaddid. Menjadi kampus yang ramah bagi semua pihak, termasuk penyandang disabilitas, adalah bentuk kontribusi nyata Unisba bagi masyarakat dan peradaban,” ujarnya.

Menutup wawancara, Asnita mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan inklusivitas sebagai budaya bersama. “Mari bergandengan tangan agar kampus inklusif bukan sekadar narasi, tetapi menjadi budaya. Penghargaan ini hanyalah langkah awal. Yang paling penting adalah membangun kesadaran dan aksi bersama sehingga Unisba menjadi kampus yang nyaman, setara, dan ramah bagi semua,” pungkasnya.[ ]

Dok foto: HUMAS