BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG — Solidaritas untuk Palestina tidak cukup berhenti pada ingatan sejarah dan pernyataan dukungan. Kepedulian perlu diwujudkan dalam aksi nyata untuk membantu masyarakat yang terus menghadapi krisis kemanusiaan. Semangat inilah yang mengemuka dalam acara From History to Solidarity yang diselenggarakan Sinergi Amil Zakat (SAZ) – Sinergi Foundation bersama Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) di Auditorium Bandung Creative Hub, Sabtu (17/10).
Ratusan peserta termasuk perwakilan dari Forum Zakat dan berbagai komunitas hadir dengan semangat dan kepedulian yang sama, yakni memperkuat solidaritas Indonesia untuk Palestina melalui edukasi, refleksi sejarah, dan aksi kemanusiaan. Deretan sponsor juga mendukung terlaksananya acara ini, yakni Miray, Sahabat Mandiri Foundation, Cleo, Teman Gadget, Rumah Bunga, dan Maira.
Salah satu agenda utama kegiatan adalah talkshow dan bedah buku Akar Sejarah Solidaritas Indonesia–Palestina, yang menghadirkan Syaidina Sapta Wilandra, Pizaro Gozali Idrus, Thoudy Badai, dan Haidar Junda Rabbani sebagai narasumber.
Syaidina Sapta, yang mewakili penulis dari Komunitas Jejak Islam untuk Bangsa, membuka diskusi dengan memaparkan latar belakang penulisan buku serta sejumlah fakta menarik mengenai hubungan Indonesia dan Palestina pada masa lalu.
Sementara itu, Pizaro Gozali Idrus, yang juga merupakan penulis buku tersebut, memberikan konteks lebih luas mengenai hubungan geopolitik kedua negara. Sebagai pengamat isu Palestina kontemporer, ia menekankan pentingnya memperluas edukasi mengenai Palestina. Menurutnya, upaya penyebaran informasi dan pengaruh oleh pihak-pihak yang mendukung Zionisme juga semakin masif, termasuk melalui media berbahasa Indonesia yang memuat pemberitaan tentang Israel.
Diskusi semakin menarik ketika Thoudy Badai membagikan pengalamannya bergabung dalam gerakan Global Sumud Flotilla 2.0. Pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa solidaritas terhadap Palestina melampaui batas agama, ras, dan latar belakang ekonomi. Kepedulian terhadap perjuangan rakyat Palestina dapat tumbuh dari siapa saja yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Haidar Junda Rabbani, praktisi kemanusiaan dari Sinergi Amil Zakat – Sinergi Foundation, turut menegaskan bahwa setiap bantuan yang dikirimkan untuk Palestina memiliki makna lebih dari sekadar donasi. Bantuan tersebut merupakan pernyataan sikap sekaligus bukti bahwa masyarakat Indonesia terus membersamai perjuangan rakyat Palestina hingga meraih kemerdekaan.
Sesi talkshow dan bedah buku ditutup dengan peluncuran resmi buku Akar Sejarah Solidaritas Indonesia Palestina. Sebagai simbolis peluncuran, para narasumber menandatangani lima eksemplar buku yang menandai diperkenalkannya karya tersebut kepada masyarakat luas.
Materi diskusi yang disampaikan sepanjang acara semakin memantik kepedulian peserta. Semangat solidaritas itu kemudian diwujudkan melalui aksi nyata. Dipandu oleh pembawa acara Yusuf Erlangga, para peserta menyatakan komitmen untuk turut serta dalam aksi kemanusiaan bagi Palestina.
Acara berlanjut dengan penampilan musisi Panji Sakti. Sejumlah lagu, termasuk Kepada Noor dan Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja, mengiringi suasana penuh haru sekaligus semangat solidaritas. Di sela penampilannya, Panji Sakti juga mengingatkan bahwa setiap donasi dan sedekah yang dikeluarkan sejatinya adalah untuk Allah SWT.
Dalam pernyataannya seusai acara, Syaidina Sapta menegaskan pentingnya pengetahuan dalam perjuangan membela Palestina. “Membaca adalah bentuk perlawanan. Sebab kolonialisme bukan hanya soal dominasi politik, ekonomi, atau militer, namun juga pengetahuan/informasi/wacana publik.”
Haidar Junda mengamini pandangan tersebut dan menambahkan bahwa dukungan terhadap Palestina perlu diwujudkan melalui berbagai cara. “Termasuk di dalamnya penyaluran bantuan kemanusiaan agar masyarakat Palestina dapat terus bertahan hidup dan berdaya di tengah krisis yang berkepanjangan.”
Melalui “From History to Solidarity”, Sinergi Amil Zakat – Sinergi Foundation mengajak masyarakat untuk terus menjaga solidaritas Indonesia untuk Palestina, baik melalui penguatan literasi sejarah maupun aksi nyata. [ ]












