Unisba Perkuat Peran Dosen Wali melalui Pemanfaatan Profil Psikologis Mahasiswa Baru

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG – Universitas Islam Bandung (Unisba) memperkuat peran dosen wali dalam memberikan pendampingan akademik dan nonakademik kepada mahasiswa baru melalui Workshop Pemanfaatan Profil Mahasiswa Baru Berbasis Asesmen Psikologi dalam Kegiatan Refreshment Dosen Wali. Kegiatan ini diselenggarakan di Aula Utama Unisba, Senin (19/10/2026), sebagai upaya memahami kebutuhan, karakteristik, dan potensi mahasiswa agar pendampingan yang diberikan lebih tepat sasaran.

 

Rektor Unisba, Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutan sekaligus membuka kegiatan, menegaskan bahwa dosen memiliki dua peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, yakni sebagai pengampu mata kuliah dan sebagai dosen wali atau pembimbing akademik. Kedua peran tersebut perlu dijalankan secara optimal untuk membantu mahasiswa mencapai potensi terbaiknya.

 

“Dosen itu ada dua fungsinya. Yang pertama adalah sebagai pengasuh mata kuliah, yang memberikan transformasi ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi kepada mahasiswanya. Yang kedua adalah sebagai dosen wali atau pembimbing akademik,” ungkapnya.

 

Menurut Prof. Harits, hasil asesmen psikologi mahasiswa baru dapat menjadi bekal bagi dosen wali untuk memahami latar belakang dan kebutuhan mahasiswa dalam proses perkuliahan. Informasi tersebut juga dapat berfungsi sebagai sistem deteksi dini untuk mengidentifikasi mahasiswa yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih lanjut.

 

Ia menilai, pendampingan mahasiswa tidak cukup hanya berfokus pada aspek akademik, seperti penyusunan Kartu Rencana Studi (KRS), tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis dan persoalan nonakademik yang dapat memengaruhi keberlangsungan studi.

 

“Ketika kita sebagai dosen wali ini diberikan bekal yang lain, yaitu data mahasiswa, profil mahasiswa, apakah mahasiswa itu prestasi akademiknya bisa ditingkatkan atau memiliki latar belakang yang lainnya, ini sudah menjadi sebuah early warning detection system untuk para dosen wali,” jelasnya.

 

Harits juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang nyaman dan mendukung perkembangan mahasiswa. Menurutnya, Unisba tidak hanya bertanggung jawab menerima mahasiswa baru, tetapi juga memastikan mereka memperoleh layanan pendidikan dan pendampingan yang baik selama menjalani perkuliahan.

 

Karena itu, ia mendorong sinergi antara dosen wali, program studi, fakultas, dan unit layanan yang tersedia di lingkungan universitas. Mahasiswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat diarahkan kepada Tim Counseling Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan maupun Unit Layanan Psikologi Terpadu Fakultas Psikologi Unisba.

 

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Kemahasiswaan sekaligus Ketua Pelaksana, Dr. Asnita Frida B. R. Sebayang, S.E., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penguatan layanan mahasiswa sejak proses penerimaan hingga pelaksanaan pembelajaran. Sebanyak 101 peserta yang terdiri atas dekan, wakil dekan bidang pembelajaran dan kemahasiswaan, ketua program studi, dosen, dosen wali, serta perwakilan bidang terkait diundang untuk mengikuti kegiatan ini.

 

Asnita menjelaskan, pemetaan profil mahasiswa baru menjadi penting karena setiap generasi memiliki karakteristik dan cara belajar yang berbeda. Dosen perlu memahami perbedaan tersebut agar strategi pembelajaran dan pendampingan yang diterapkan dapat menyesuaikan kebutuhan mahasiswa.

 

“Bisa jadi selama ini cara kita mendekati masih seperti kita dulu waktu kuliah, padahal generasi sekarang caranya sudah berbeda. Ini yang perlu kita pahami dari pemetaan yang kami lakukan, yang pada akhirnya akan merujuk pada bagaimana strategi pembelajaran yang harus kita lakukan,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, melalui asesmen yang dilakukan terhadap mahasiswa baru angkatan 2026, Unisba mulai mengembangkan indikator untuk membantu dosen memahami profil mahasiswa, termasuk aspek mental toughness. Ke depan, hasil pemetaan tersebut diharapkan dapat mendukung sistem informasi dosen sehingga kebutuhan pendampingan mahasiswa dapat diketahui secara lebih terarah.

 

Namun, Asnita menegaskan bahwa pemanfaatan data asesmen harus disertai dengan tanggung jawab dalam menjaga kerahasiaan informasi pribadi mahasiswa. Dosen dan pihak terkait perlu membangun kepercayaan agar mahasiswa merasa aman ketika menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi.

 

“Kalau mahasiswa yang bersangkutan menyampaikan permasalahan yang sedang dialami, ada kewajiban dari kita untuk merahasiakan datanya, tidak menjadikan mereka sebagai bahan gosip di kelas,” tegasnya.

 

Dalam kegiatan tersebut, materi pertama disampaikan oleh Anjar Kartaputra, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari tim Anvesana, dengan tema “Pemanfaatan Hasil Asesmen Mahasiswa Unisba Angkatan 2026”. Materi kedua disampaikan oleh Dekan Fakultas Psikologi Unisba, Dr. Dewi Rosiana, M.Psi., Psikolog, bertajuk “Memahami Profil Mahasiswa dan Implikasinya dalam Pembelajaran dan Pendampingan”.

 

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi dan praktik analisis profil mahasiswa, diskusi, serta presentasi hasil analisis dan rencana tindak lanjut. Rangkaian ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami hasil asesmen secara konseptual, tetapi juga mampu menggunakannya sebagai pertimbangan dalam merancang pendekatan pembelajaran dan pendampingan.

 

Melalui kegiatan ini, Unisba berharap kesiapan dosen wali dalam memahami mahasiswa baru semakin meningkat. Pemanfaatan hasil asesmen psikologi diharapkan menjadi salah satu landasan dalam membangun layanan pendidikan yang lebih responsif, menjaga keberlangsungan studi mahasiswa, serta mendukung pembentukan sumber daya insani yang beriman, bertakwa, berakhlak karimah, dan berkarakter 3M, yakni mujahid, mujtahid, dan mujaddid. [ ]

Dok foto: HUMAS