Unisba Gelar FGD Model Pengelolaan Sampah Berbudaya di Kecamatan Arcamanik

BERITAUNGGULAN.COM, BANDUNG  – Universitas Islam Bandung (Unisba) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Model Pengelolaan Sampah Berbudaya di Kecamatan Arcamanik Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat” di Gedung LPPM Unisba lantai 3, Senin (18/5). Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Arcamanik, para lurah di wilayah Kecamatan Arcamanik, pemerintah daerah, akademisi, serta tim pelaksana program socio engineering zero waste Unisba.

FGD tersebut menjadi bagian dari penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun model pengelolaan sampah berbasis budaya dan partisipasi masyarakat.

Kegiatan diawali dengan sambutan Rektor Unisba, dilanjutkan sambutan Sekretaris Daerah Jawa Barat, arahan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, serta laporan dari Ketua Socio Engineering Program Zero Waste Unisba.

Dalam sambutannya, Rektor Unisba Prof. Ir. A. Harits Nu’man, M.T., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari program socio engineering yang telah dijalankan selama beberapa bulan terakhir.

“Kegiatan ini adalah kelanjutan dari program socio engineering yang sudah kita canangkan sebulan yang lalu. Proses kita lakukan selama tiga bulan dan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama bagaimana mengedukasi masyarakat, memetakan masalah, kemudian edukasi, dan tahap kedua kita akan melihat trennya seperti apa pasca edukasi tentang handling sampah ini, baik pemilahan, pengolahan maupun pengurangan produksi sampahnya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil pemetaan dan survei lapangan yang dilakukan tim, masih terdapat sejumlah tantangan dalam pengelolaan sampah di masyarakat. Meski demikian, program tersebut dinilai menunjukkan perkembangan positif.

“Kalau dilihat dari informasi yang kita dapatkan dari ketua tim socio engineering, bagaimana proses pengurangan volume sampah makanan, kemudian kultur yang dibangun oleh tim zero waste, ada beberapa PR yang masih tersisa di bulan kedua. Itu masih 12 persen masyarakat belum melakukan pemilahan,” katanya.

Rektor juga mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam mendukung program tersebut. “Tentunya ini kami berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim yang sudah terjun. Ini kolaborasi mulai dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kota Bandung, dan tentunya adik-adik mahasiswa yang didampingi oleh DPL,” tambahnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman, Drs., M.Si., menekankan pentingnya tindak lanjut nyata dari hasil diskusi yang dilakukan. “Jadi kami meminta dengan segala kerendahan hati, selesai rapat ini tidak ada rapat lagi, langsung action saja kita. Sudah cukup ini. Tapi ada jaminan juga, apa yang kita bahas hari ini sampai ke 500 mahasiswa. Jangan asal-asalan,” tegasnya.

Dalam arahannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, S.T., M.T., memaparkan program “Arcamanik Zero Organic Waste” yang menjadi pilot project transformasi sosial pengurangan sampah kota. Program tersebut dilaksanakan selama tiga bulan di empat kelurahan dan melibatkan 54 RW di Kecamatan Arcamanik.

Berdasarkan hasil survei yang dipaparkan, program tersebut melibatkan 406 responden rumah tangga dan 54 responden non-rumah tangga di wilayah Sukamiskin, Cisaranten Endah, Cisaranten Kulon, dan Cisaranten Bina Harapan. Hasil survei menunjukkan sebanyak 87,9 persen rumah tangga telah melakukan pemilahan sampah, sementara sebagian lainnya masih menghadapi kendala seperti belum tersedianya tempat sampah terpisah dan sistem pengangkutan terpilah.

Selain itu, mayoritas rumah tangga menghasilkan sampah makanan kurang dari 0,5 kilogram per hari. Penyebab utama food waste berasal dari makanan basi sebelum dimakan dan makanan yang melewati tanggal kedaluwarsa.

Dalam laporannya, Ketua Socio Engineering Program Zero Waste Unisba, Dr. Titik Respati, drg., M.Sc.PH., menjelaskan bahwa program Arcamanik Zero Waste dirancang sebagai model pengelolaan sampah terintegrasi berbasis masyarakat.

Ia memaparkan sejumlah strategi yang telah dilakukan, mulai dari edukasi pemilahan sampah rumah tangga, penguatan bank sampah tingkat RW, pengolahan sampah organik melalui komposter dan maggotisasi, hingga pendekatan budaya melalui kegiatan warga.

“Pendekatan yang dilakukan bukan hanya soal teknis pengelolaan sampah, tetapi juga membangun kesadaran dan budaya masyarakat agar pengurangan sampah dapat dilakukan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Program tersebut juga mendorong sinergi lintas sektor antara masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta mahasiswa pendamping lapangan. Sejumlah inovasi seperti penggunaan aplikasi bank sampah digital, penguatan literasi pemilahan sampah, hingga pengembangan kawasan percontohan pengolahan organik mandiri turut diperkenalkan dalam program tersebut.

Melalui FGD ini, Unisba berharap model pengelolaan sampah berbudaya di Kecamatan Arcamanik dapat menjadi percontohan bagi wilayah lain di Kota Bandung maupun Jawa Barat dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berbasis partisipasi masyarakat. [ ]

Dok foto: Humas Unisba